Saturday, June 13, 2020

(Bahasa Indonesia) Chit chat: Tips Mengatur Keuangan Keluarga

Aloha guys!

     Mau share sedikit tentang chitchat yang sebenarnya udah lama banget mendem di draft nih. Jadi aku mau share sedikit tentang keuangan dan bagaimana seorang ibu itu berperan sangat penting dalam hal ini. Pastinya aku bakalan share tips yang aku dapatin juga perihal gimana sih caranya buat bisa makin jago dalam mengatur keuangan keluarga! Cus baca!

Pic credit: istockphoto.com
     Sebagai seorang Ibu, pasti banget nih kita sebagai ibu-ibu sekalian merasakan apa tuh rasanya menjadi Guardian of the Family. Dari mulai hal simple kaya nyariin kaus kaki suami, mainan anak yang hilang, sampai task yang ribet sekalipun; a.k.a tiba-tiba dikasih jabatan sebagai menteri keuangan keluarga.

     Tapi untuk ngurusin itu semua, ibu itu perlu menjaga sanity nya, alias WARAS! Ga cuma waras, ibu pun perlu stay strong dan sehat. Pastinya pernah kan ya seliweran denger ungkapan "Healthy Mom = Healthy Family"? Yha because memang itu benar sekali adanya, lol. Pernah kan lagi sakit, atau stress berat sampai ga mood ngapa-ngapain, walaupun cuma sehari. Yakin deh hampir semua hal bisa buyar. Kaya misalnya aku tuh pernah sakit mata parah atau maag parah sampai cuma bisa terkapar doang di kasur. Dan well, semua hal buyar. 

    Selama sakit mata itu, aku kesulitan mengurus keluarga. Jadi kaya cucian piring menumpuk, pumping ASI menurun (pas dulu lagi pumping pula!), perhitungan uang bulanan pun wasalam, kacau! Kenapa? Soalnya yang pas aku sakit mata itu (kurang lebih seminggu), pas banget dengan waktu gajian suami. Hahaha. Biasa seluruh pengeluaran aku yang mengurus dan menyimpan pada pos-posnya, jadi terbengkalai lah udah, bye. Alhasil pada bulan itu keuangan bocor sana sini, hahaha. Posnya bubar jalan.

    Kebayangkan pas udah sembuh sakit matanya malah migren lol. Maka dari itu, benar adanya kalau Healthy Mom is sure indeed a healthy family. Dan kaya yang aku mention tadi, sehat ngga cuma fisik. Tapi harus waras juga, alias pikiran harus sehat. Cara pikiran sehat itu ada banyak tergantung pribadi masing-masing. Yang pasti gak ada salahnya sekali-sekali mendapat me time yang bebas dari segala tetek bengek tekanan mengurus keluarga, because you need to take care of yourself first in order to take care others. Well, kalau sehat dan waras terjaga, kita sebagai ibu dapat kembali mengurus keluarga dengan baik dan menjadi Guardian of The Family yang sehat secara batin maupun fisik!

     Anyway, kalau keuangan udah bocor tu rasanya pasti maleeeess banget dan beban banget tu kembali mengurus keuangan yang bocor. Harus cari celah, pinter-pinter di bulan berikutnya, dan sebagainya. Dan ngga semua ibu bisa sebenarnya dalam mengurus keuangan dengan baik. Jadi walaupun abis nikah tetiba mendapatkan gelar kehormatan sebagai menteri keuangan, bukan berarti kita semua tahu cara yang benar mengurus keuangan. Lucky yang bisa lempar tugas keuangan ke suami, kalau suami sama cluelessnya? Ya paling ujung-ujungnya kita juga. Kaya aku nih ya, aku pun sampai sekarang masih suka bingung dan perluuuuu banget banyak belajar agar lebih disiplin dengan pos keuangan dan juga meminimalisi kebocoran (yang sering muncul apalagi kalau stressnya bawaannya mau belanja haha).


     Kebetulan, dulu tuh aku sempat mengikuti event talk show bersama Sun Life yang membahas tentang mengatur keuangan. Jadi dulu tu pembicaranya ada Shierly Ge (Chief Marketing Officer Sun Life), Annisa Sagita (Financial Planner), Kelly Tandiono (Model & Brand Ambassador Sun Life), serta Kania Annisa Anggiani (Mompreneur). Ini tu acara dari kumparan gitu aku iseng aja ikutan pas ada tawarannya, karena ya mayan tema nya penting ya buat aku sekarang tu.

     Masing-masing pembicara itu menyajikan insight yang sangat berguna menurutku, especially share-nya Mbak Annisa Sagita yang merupakan financial planner, berkaitan dengan menyusun finansial dengan baik. Benar-benar topik yang perlu aku resapi, terutama karena emang jujur aja ya, aku kurang lebih masih cukup buta cara mengatur keuangan keluarga yang benar dan baik. Ini deh aku sempat buat rangkumannya dan juga tipsnya!


FAKTA & HAL-HAL PENTING

     Faktanya, ternyata tu dari banyaknya perceraian yang terjadi, terdapat 4 alasan terbesar perceraian di Indonesia, nah salah satunya adalah masalah ekonomi/finansial! Jadi ga cuma masalah selingkuh, bete-betean lain, tapi ya masalah financial ini emang ternyata bisa bikin hubungan suami istri jadi bubar jalan. Jadi yaudalah ya, fix banget masalah finansial ini penting adanya dalam membangun suatu keluarga.

     "Yes, we need love for marriage and build a happy family, but unfortunately my dear, love is simply not enough. Money does count."

     Ya wajar, karena pada dasarnya uang sangaaattt dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ya kali beli beras pakai cinta, digeplak kang beras yang ada. Jadi, kejelasan tentang masalah ekonomi dan finansial itu penting untuk suatu keluarga supaya bisa bertahan teguh kedepannya. Nih ya, bukan masalah banyaknya uang, tapi lebih ke bagaimana kita bisa mengatur keuangan itu sendiri dan paling penting: 
"KETERBUKAAN MASALAH FINANSIAL ANTARA SUAMI DAN ISTRI PENTING!!!"

     Jadi, yang masih mikir pernikahan tu cukup perlu cinta aja dan bukan uang, coba lagi deh dipikir. Emang kalo laper pake cinta kenyang, ya ngga, harus makan. Makan belinya pakai apa? Ya pakai uang. Uhuy, be realistic.

     "Love does conquer all, but every family need money to buy food, clothes, house; to build a life. And openness build trust between man and wife."

   Jadi inget-inget mantra nya di sini: yaitu "Keterbukaan dengan pasangan", sebelum melakukan hal lainnya. Karena kalau ada keterbukaan, maka diskusi dan financial planning keluarga akan jauh lebih gampang karena suami dan istri akan saling support. Ngga ada tu namanya curiga-curigaan, karena ya terbuka, dua-dua tahu dan transparansi tentang keuangan jelas.


PERSIAPAN

Beberapa hal penting yang harus kita ketahui sebelum bisa memanage keuangan dengan lebih baik:

1. Financial Check Up: sederhana, mungkin jarang dilakukan, tapi sebenarnya sangat penting. Kalau kita ingin merencanakan dengan lebih baik, pastinya kita harus tahu dan paham dulu bagaimana kondisi finansial kita saat ini. Pastikan keuangan keluarga itu sehat, dan dari sini juga kita bisa cari tahu juga masalah keuangan saat ini, berserta dengan solusinya.
  • Aset dikurangi hutang = positif. Kalau sampai negatif fix amsyong sih, karena hutang yang lebih banyak dari aset yang kita miliki.
  • Pemasukan > Pengeluaran. Apa pas?
  • Cicilan juga penting dicek. Well, cicilan itu boleh boleh aja, tapi sebaiknya maksimal cicilan bulanan adalah 30% dari pemasukan, biar ga ambyar. 
  • Punya dana darurat. Minimal baiknya 3x pengeluaran bulanan yang tidak diganggu gugat. Ini sulit, tapi ternyata penting lho guys. Apa lagi masa pandemi gini langsung berasa deh kalau ngga ada dana darurat.
  • Punya setidaknya asuransi kesehatan untuk seluruh keluarga, at least punya BPJS udah lumayan lah.

2. Menentukan Tujuan deh setelahnya: kita harus tau nanti uang kita ini ditujukan untuk apa. Apa cita-cita keluarga? Apa yang ingin diraih? Mau jalan-jalan? Mau punya kehidupan yang lebih baik? Beda-beda tergantung keluarga masing-masing.

3. Bagaimana Cara Meraih Tujuan tersebut: jadi ini strategi apa yang bisa kita persiapkan untuk mencapai tujuan yang telah kita inginkan itu. 

4. ACTION! : berbagai cara-cara yang bisa kita terapkan untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya membuka tabungan baru, memiliki beberapa tabungan terpisah sesuai pos masing-masing, mendaftar asuransi, buka rekening investasi dan sebagainya.

     Nah, dengan persiapan yang matang, maka perencanaan keuangan seharusnya bisa lebih mudah untuk diatur, karena kita udah tau bagaimana kondisi kita dan apa tujuan kita kedepannya. Anyway, jujur banget aku sendiri masih kesulitan untuk menyimpan dana darurat, adaaaaa aja bocornya, ampun deh. Tapi tujuan sendiri aku rasa sudah cukup kebayang, tinggal lebih dipersiapkan dan difokuskan kembali biar makin jelas, soalnya masih suka mencong-mencong ga sesuai plan hehe.

Pic credit: twocents.lifehacker.com


PERENCANAAN KEUANGAN

    Menurut Mbak Annisa saat talkshow, perencanaan keuangan yang baik adalah jika kita bisa mengingat 3 hal ini:
1. Saat Ini: Pemasukan dan pengeluaran (cashflow), cicilan (manajemen hutang), aset yang dimiliki, dan juga kekayaan bersih.
2. Masa Depan: Sekolah dan kelangsungan hidup anak, rencana traveling, calon anak berikutnya, beli rumah, beli kendaraan, pensiun.
3. Perlindungan: Tabungan darurat dan asuransi.

PENTINGNYA TABUNGAN DARURAT, INVESTASI, DAN ASURANSI

     Jujur, aku masih suka bocor di ketiga pos ini banget, tapi aku sedang berusaha menjadi menteri keuangan keluarga yang lebih baik lagi. Tabungan darurat memang penting adanya, karena kita tu ngga bisa memprediksi masa depan, apa yang akan terjadi dan kapan kita butuh dana darurat tersebut. Misalnya karena sakit (ga semua ke cover asuransi/BPJS), service mobil besar-besaran yang tidak terduga, dan sebagainya. Atau simpelnya di masa pandemi sekarang; banyak gaji yang dipotong 50%, di rumahkan tanpa gaji, atau di PHK. Pusing banget kan kalau ngga ada dana darurat.

     Investasi juga tidak kalah penting ternyata, karena ya memang penghasilan saja bisa jadi tidak cukup, apalagi kalau dikeluarga itu cuma single income. Menentukan investasi apa yang cocok juga susah, aku dan Ichi sampai saat ini masih bolong pada bagian investasi karena suami masih berusaha terhindar dari investasi yang berbau riba. Aku sendiri sih tergantung ichi aja lebih nyaman pada investasi apa dan itu masih kami pertimbangkan sampai sekarang. So far sih adalah investasi nya di nabung emas gitu, tapi itu pun belum seberapa. Kita masih lihat-lihat lah.

Pic credit: www.whatinvestment.co.uk

     Asuransi pun menjadi hal yang sangat penting. Setidaknya harus ada asuransi kesehatan lah ya, biar sedikit aman. Untuk asuransi, so far keluargaku baru menggunakan BPJS dan juga asuransi kesehatan bawaan dari kantor suami, karena sekarang aku kan udah ngga kerja, jadi asuransi dari kantor ya sisa dari suami aja. Asuransi cukup berguna sekali, terutama saat aku melahirkan dulu itu. Luckily, walaupun drama lahirannya, tapi sisi positifnya adalah hampir seluruh biaya persalinan ditanggung asuransi (BPJS) dan check up nya pun masih terbantu asuransi kantor beberapa kali. Karena emang aku agak bermasalah saat hamil, yang muntah parah sampai muntah darah bahkan. Jadi masih ditanggung asuransi. So lumayan lebih hemat jauh sih. Kalau kalian mau berasuransi, pastikan kalian memilih asuransi yang baik dan sesuai dengan yang kalian inginkan. 


MANAJEMEN CASHFLOW

     Dengan terbentuknya perencanaan keuangan yang baik, maka manajemen cashflow bisa lebih terencana dengan baik pula. Mbak Annisa membagian persentasi cashflow yang sekiranya bisa kita jadikan patokan dalam memanajemen pengeluaran:
1. Saat Ini (Biasa Hidup): 40% dari gaji.
2. Saat Ini (Cicilan Jika Ada): maksimal 30% dari gaji.
3. Masa Depan: 20% dari gaji.
4. Tabungan Darurat: 10% dari gaji.
     Memang sih, semua keluarga pastinya ngga bisa plek-plekkan mengikuti persentasi berikut, karena beda keluarga beda kebutuhan dll, tapi setidaknya ini bisa menjadi gambaran untuk kita membuat persentasi cashflow untuk keluarga kita.

    Selain ini, ini juga penting nih, yaitu menentukan siapa yang megang manajemen cashflow keluarga. Apakah kamu? Atau suamimu? Atau keduanya memiliki andil yang sama? Ya bebas, tergantung diskusi sama suami. Dan itu biasanya ada 3 tipe:
  1. Suami Transfer Seluruh Pemasukan: Biasanya ini terjadi kalau suami yang bekerja dan istri sebagai ibu rumah tangga. Jadi istri yang dipilih untuk memanejemen seluruh pengeluaran dan pemasukan. Walaupun begitu, please ya suami tetap aware dan ngga "terima jadi" tok. Jadi diskusi dan keterbukaan tetap perlu walaupun hanya satu orang yang mengurus ya. 
  2. Suami Transfer Sebagian Pemasukan: Suami dan istri sama-sama memanajemen pengeluaran dan pemasukan dari gaji yang dipisah sesuai kebutuhan, dan masing-masing tujuan tetap didiskusikan dengan baik.
  3. Keuangan Terpisah/Bagi Tugas: Biasanya kalau kaya gitu tu suami dan istri sama-sama bekerja. Masing-masing mengurus uang sendiri sesuai dengan tujuan keluarga yang udah didiskusikan.

     Apapun tipe manajemen yang keluarga kalian pilih, jangan lupa untuk tetap saling diskusi dan terbuka ya sama pasangan. WAJIB! Biar ngga jadi drama. Aku sendiri sepertinya lebih ke yang nomer 1, bahkan dari sebelum aku menjadi full time house wife dan masih bekerja. Jadi tu dari jaman sama-sama bekerja, aku selalu mengurus keuangan keluarga. Aku ngurus penghasilan sendiri untuk kebutuhan suka-suka ku. Dan aku pun ngurus penghasilan dari suami untuk kebutuhannya dan keluarga kami.

     Dan iya, walaupun suami mentransfer dan mempercayakan seluruh gajinya, aku tetap berusaha tetap update buat dia dan pastinya maksa dia buat ikutan lihat dan tau manajemen cashflow keluarga kami. Selain itu, kaya yang aku mention di atas untuk uang yang aku hasilkan sendiri (dari bekerja sampai menjadi freelance sekarang ini), semuanya merupakan hakku dan aku yang pegang dan ya itu buat kebutuhan suka-suka ku. Tapi karena sudah biasa terbuka mengenai uang sejak pacaran dulu, jadi apapun penghasilanku (yang tetap hakku seutuhnya) tetap aku diskusikan dengan suami, tapi dia tidak mengganggu gugat sama sekali. Bebash mau aku apain aja, orang punya ku. Lol, so it's true kalau di keluarga kami "uang istri ya uang istri, uang suami ya uang istri juga" hahaha.

     Intinya, apapun pilihan keluargamu, pastikan sudah melalui diskusi dan kesepakatan bersama pasangan ya. So hidup mu akan less drama dan ngga baperan masalah uang sama pasanganmu! Anyway, sekian dulu chit chat kali ini, semoga bermanfaat yaaa!

Love,
Auzola



No comments:

Post a Comment